Melalui Penerapan Teknologi Pengolahan Kopra dan Pembuatan Briket, Tim PKM BIMA Unpatti Lakukan Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat
- Administrator
- Kamis, 20 Agustus 2026 14:13
- 0 Lihat
- PENDIDIKAN
Ambon, CM- Tim PKM Bima yang merupakan dosen Unpatti melaksanakan kegiatan pengadian masyarakat di Desa Kamal, Kabupaten Seram Bagian Barat. Kegiatan yang dilaksanakan merupakan hibah Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jendral Riset dan Pengembangan, KEMDIKTISAINTEK Tahun 2026, Ungkap Priska M. Pattiasina, S.Si., M.Sc Dalam Pers Relesean kepada redaksi Citra Maluku, pada Rabu (19/08-2026).

Menurut Pattiasina, dalam melaksanakan program tersebut (Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat), yang berlokasi di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) Tepatnya Desa Kamal pada tanggal 29 Mei 2026, dan dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan yang dilakukan pada tanggal 18-19 Agustus 2026.
“Tim yang terdiri dari 3 orang dosen dan 2 mahasiswa melaksanakan kegiatan awal dengan melaksanakan kegiatan sosialisasi bagi mitra yakni kelompok tani kelapa yang terdiri dari 10 petani”Jelasnya.
Terkait dengan penerapan reknologi dalam pengelolaan Kopra dan Pembuatan Briket, kata dia, Penerapan Teknologi Pengolahan Kopra dan Pembuatan Briket untuk yang jelas tujuaannya adalah untuk meningkatkan nilai Ekonomi Industri Kelapa Rakyat di Desa Kamal, Seram Bagian Barat.

Diketahui, dalam sosialisasi awal kegiatan dibuka dengan penyampaian arahan singkat terkait industri kopra yang dilakukan secara konvensional dari ketua tim, Priska M. Pattiasina, S.Si., M.Sc. (Dosen Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi Unpatti) yang mana saya sendiri, dan dilanjutkan dengan penyampain materi terkait pemanfaatan teknologi penggunaan alat dalam proses pengupasan kulit kelapa oleh Nelson Gaspersz, S.Si., M.Si. (Dosen Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi Unpatti).
Selanjutnya Prof.Dr. Dominggus Malle, M.Sc. (Dosen Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian Unpatti) menjelaskan tentang potensi usaha dalam pemanfaatan limbah tempurung kelapa untuk dijadikan briket yang memiliki nilai jual.
Kata Pattiasina, tanaman kelapa merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan mulai dari buah, air buah, tempurung ,kulit buah, sampai daun. Pemanfaatan buah kelapa tua sebagai kopra merupakan salah satu cara untuk meningkatkan nilai buah kelapa sehingga dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga para petani.
“Dalam proses prapembuatan kopra yakni pengupasan kulit kelapa, masih dilakukan dengan cara yang konvensional dengan menggunakan parang dengan tenaga manusia, cara ini tidak efisien karena memakan waktu lama dan membutuhkan tenaga yang cukup besar”Cetusnya.
Selain itu lanjutnya, limbah tempurung kelapa langsung dibuang tanpa proses pemanfaatan lanjutan.
Dalam sosialisasi lanjutan (pemberi materi kedua) Kata Dia, dilanjutkan oleh Nelson Gaspersz, S.Si., M.Si. (Dosen Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi Unpatti). Dalam pemberian materi berkaitan dengan penerapan teknologi tepat guna berupa alat pengupas kelapa.
Dalam pemaparannya disampaikan menilik permasalahan yang dihadapi mitra salah satunya adalah lamanya proses pengupasan kulit kelapa yang merupakan tahapan pra pembuatan kopra.
Dari segi pengelolaan secara konvensional tidak efektif, sehingga berdampak pada meningkatnya jumlah tenaga manusia yang harus digunakan untuk proses pengupasan kulit kelapa.
Kapasitas produksi kopra juga bergantung pada jumlah buah kelapa yang telah dikupas untuk diasar menjadi kopra, sehingga produk kopra yang dihasilkan sekali proses asar lebih sedikit jumlahnya.
Ditempat yang sama pada sesi tiga atau pemberian materi tiga yang diberikan langsung oleh Prof.Dr. Dominggus Malle, M.Sc. (Dosen Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian Unpatti) terkait pemanfaatan tempurung kelapa yang dibuang sebagai limbah untuk diproses selanjutnya menjadi produk briket.
Dimana briket dibuat dengan cara membakar tempurung kelapa menjadi arang yang selanjutnya dihaluskan dan dicampur dengan tapioka sebagai lem untuk dicetak menjadi briket yang padat dan tidak mudah terbakar.
Dalam kegiatan ini Pattiasena dengan Timnya berharap, dengan kegiatan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), tim akan membantu masyarakat melalui penyediaan teknologi tepat guna berupa alat pengupas kelapa, alat penepung arang dan alat cetak briket. Alat ini diharapkan dapat membantu mitra masyarakat dalam proses pembuatan kopra dan briket yang lebih cepat dengan jumlah produksi yang lebih tinggi.
“Langkah-langkah yang dilakukan oleh tim, akan berdampak langsung pada proses produksi kopra dan briket pada industri rumah tangga sebagai solusi peningkatan ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat Desa Kamal” Harapnya.
Diketahui, Kegiatan pelatihan yang dilakukan pada bulan Agustus, Tim datang dengan membawa alat-alat yang telah dijanjikan. Kemudian tim melakukan pelatihan dengan dibantu 2 mahasiswa kepada mitra yakni 10 orang petani kelapa. Mitra diberikan pemahaman penggunaan alat dan pembuatan kopra.
Dalam kesempatan yang sama, mitra sangat antusias dengan alat-alat tersebut sehingga mitra langsung mencoba sendiri penggunaan alat-alat tersebut. Mitra juga mempraktekkan cara pembuatan briket dan cara mengemasnya menjadi produk yang mempunyai nilai jual.
“Kami akan menggunakan alat-alat ini untuk memaksimalkan produksi kopra dan mencoba mulai membuat briket untuk dijual ke para pedagang ikan bakar atau sate”ungkap salah satu petani kelapa yang tergabung dalam mitra.(CM/Tim)